Magelang, 28 Mei 2026 — Kegiatan bertajuk Dhammavicayo diselenggarakan di Aula Griya Vipassana Avalokitesvara, Magelang, pada Kamis (28/5/2026). Acara ini menghadirkan narasumber dari kalangan bhikkhu senior Bhikkhu Theravada Dhammayut Indonesia serta lama dari Majelis Palpung Indonesia.
Para narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain V. Khenpo Ugyen, V.V. Yolmo Tulku Rinpoche, serta Phrakhrurapaphatsonsirikhun Luang Por Sawang (47 Vassa). Sementara itu, Y.M. Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera (34 Vassa) bertindak sebagai penerjemah, dengan moderator Pande Utari selaku Ketua DPD WALUBI Bali dan translator Tukiman.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Umum DPP WALUBI Dr. (H.C.) Dra. S. Hartati Murdaya, Direktur Urusan dan Pendidikan Ditjen Bimas Buddha Nyoman Suriadarma, S.Pd., M.Pd.B., serta jajaran pengurus DPP WALUBI, di antaranya Y.M. Bhikkhu Pabbakaro Mahathera.
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah kehadiran yang mencapai lebih dari 150 orang. Para peserta mengikuti jalannya pembabaran Dhamma dengan penuh perhatian. Pada sesi dialog, sejumlah peserta juga menyampaikan pertanyaan kepada para narasumber, khususnya mengenai pentingnya kewaspadaan dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.




Dalam pemaparannya, Phrakhrurapaphatsonsirikhun Luang Por Sawang menjelaskan mengenai sati dan kesadaran sebagai landasan dalam melakukan tindakan baik dan membangun karma baik. Menurutnya, kewaspadaan dan kesadaran merupakan prinsip penting yang perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyampaikan bahwa perubahan dalam kehidupan merupakan kondisi yang wajar. Namun demikian, Buddha telah menunjukkan jalan untuk tetap menjaga kesadaran dan kewaspadaan melalui Buddha dan Dhamma. Hal tersebut diwujudkan melalui praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan, seperti samma ditthi, samma sankappa, dan samma vaca, yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, V. Khenpo Ugyen menjelaskan mengenai hakikat Buddha sebagai sosok yang murni dan sempurna, terbebas dari racun batin serta memiliki kebijaksanaan yang sempurna. Ia menerangkan bahwa dalam tradisi Tibet, istilah “Sang Ghe” memiliki makna kemurnian dan kesempurnaan.
Lebih lanjut, V. Khenpo Ugyen menekankan pentingnya meneladani sifat-sifat Buddha, yakni menjaga kemurnian batin dengan terus berupaya mengikis kilesa atau kekotoran batin, serta memelihara pikiran agar senantiasa berada dalam kondisi positif.







