Magelang — Perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) / 2026 diwarnai dengan berbagai kegiatan pembinaan dan pendalaman Dharma yang diselenggarakan oleh umat Buddha di Indonesia. Salah satunya melalui kegiatan Dhammavicayo yang berlangsung di Aula Griya Vipassana Avalokitesvara, Magelang, Kamis (28/5/2026).
Kegiatan yang dihadiri lebih dari 150 peserta tersebut menghadirkan para guru spiritual dan bhikkhu senior lintas tradisi Buddhis, di antaranya V. Khenpo Ugyen, V.V. Yolmo Tulku Rinpoche, serta Phrakhrurapaphatsonsirikhun Luang Por Sawang (47 Vassa). Turut hadir Ketua Umum DPP WALUBI Dr. (H.C.) Dra. S. Hartati Murdaya, jajaran pengurus WALUBI, serta Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Agama Buddha, Nyoman Suriadarma, S.Pd., M.Pd., M.Pd.B.
Dalam sambutannya, Nyoman Suriadarma menegaskan bahwa kegiatan Dhammavicayo menjadi ruang pembelajaran Dharma yang sangat penting di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis dan penuh tantangan. Menurutnya, pembinaan umat melalui pendalaman ajaran Buddha harus terus diperkuat agar nilai-nilai Dharma tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.





“Kegiatan Dhammavicayo menjadi sarana yang sangat penting untuk memperkuat keyakinan umat sekaligus memperdalam pemahaman terhadap ajaran Buddha. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, umat Buddha membutuhkan ruang pembelajaran Dharma yang mampu menghadirkan kesejukan, kebijaksanaan, dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nyoman Suriadarma.
Ia juga mengapresiasi peran WALUBI yang selama ini aktif membangun kehidupan keagamaan Buddha di Indonesia melalui berbagai program sosial, pendidikan, kemanusiaan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan hidup.
“WALUBI telah menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan spiritual, tetapi juga pelayanan sosial kemasyarakatan. Ini merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai Dharma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjutnya.
Menurut Nyoman, perayaan Waisak 2570 BE tidak hanya dimaknai sebagai seremoni keagamaan, tetapi juga menjadi refleksi untuk mengembangkan kesadaran (sati), welas asih, serta kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita diingatkan bahwa ajaran Buddha tidak cukup hanya dipahami secara intelektual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku yang membawa manfaat bagi sesama,” katanya.
Sementara itu, dalam sesi pembabaran Dharma, Phrakhrurapaphatsonsirikhun Luang Por Sawang menjelaskan pentingnya sati atau kesadaran sebagai dasar dalam membangun tindakan baik dan karma baik. Ia menekankan bahwa kehidupan yang terus berubah merupakan kondisi yang wajar, namun manusia perlu menjaga kewaspadaan dan kesadaran melalui praktik Dharma.
“Buddha telah menunjukkan jalan melalui praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Venerable Khenpo Ugyen juga menyampaikan pemahaman mengenai hakikat Buddha sebagai sosok yang murni dan sempurna, bebas dari kekotoran batin serta penuh kebijaksanaan. Ia mengajak umat untuk meneladani sifat Buddha dengan terus mengikis kilesa atau kekotoran batin dan menjaga pikiran tetap positif.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta mengikuti pembabaran Dharma dengan penuh perhatian, serta mengikuti sesi meditasi singkat yang dibimbing oleh para pembabar Dharma. Melalui kegiatan Dhammavicayo, perayaan Waisak 2570 BE diharapkan tidak hanya menjadi ritual keagamaan semata, tetapi juga memperkuat kualitas spiritual, mempererat persaudaraan lintas tradisi Buddhis, serta menghadirkan nilai-nilai kebijaksanaan Buddha dalam kehidupan masyarakat Indonesia.







