MAGELANG — Ketua Umum DPP WALUBI Dr. (H.C.) Drs. Hartati Murdaya menyampaikan bahwa pelaksanaan Dhammavicayo 2026 menjadi bagian penting dalam rangkaian Waisak Nasional 2570 BE/2026 di tengah perkembangan dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian. Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Dhammavicayo pada Kamis, 28 Mei 2026 di Vihara Griya Vipassana Avalokitesvara, Mendut, Magelang.
Di hadapan para bhikkhu sangha, samanera, romo pandita, tokoh Buddhis, dan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia, Hartati Murdaya mengatakan bahwa kondisi dunia modern saat ini menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi kehidupan manusia. Menurutnya, perkembangan zaman dari masa ke masa berlangsung tanpa henti dan membawa perubahan besar terhadap cara manusia menjalani kehidupan.
“Perkembangan zaman dari dulu sampai sekarang tidak ada hentinya berubah, dan segala sesuatu kondisinya serba tidak pasti,” ujar Hartati Murdaya dalam sambutannya.

Ia menyampaikan bahwa situasi dunia yang berubah cepat memerlukan kejernihan hati dan pikiran agar manusia tidak mudah terjebak dalam tekanan hidup, kemelekatan duniawi, maupun pertentangan batin yang berkepanjangan. Dalam pandangannya, Dharma memiliki peranan penting sebagai pedoman moralitas dan kebijaksanaan bagi masyarakat modern.
Hartati Murdaya juga menyampaikan apresiasi kepada para bhikkhu, suhu, rinpoche, dan romo pandita yang selama ini mendukung perkembangan Buddha Dharma di Indonesia. Menurutnya, para guru spiritual memiliki peran besar dalam membimbing umat Buddha menghadapi berbagai persoalan kehidupan melalui pemahaman ajaran Sang Buddha.
“Saya sangat berterima kasih atas partisipasi para bhante, suhu, rinpoche, dan romo pandita yang menjadi pendukung Buddha Dharma khususnya di Indonesia,” katanya.
Kegiatan Dhammavicayo tahun ini mengangkat tema “Dharma Sebagai Sumber Moralitas dan Kebijaksanaan.” Tema tersebut berkaitan dengan istilah Dhammavicayo dalam bahasa Pāli yang berarti penyelidikan terhadap Dhamma atau penguraian kebenaran melalui pengamatan dan perenungan. Dalam ajaran Buddhis, Dhammavicayo termasuk salah satu dari tujuh faktor pencerahan (Bojjhaṅga) yang membantu perkembangan kebijaksanaan dan kejernihan batin.
Hartati Murdaya menjelaskan bahwa Waisak Nasional tidak semata-mata dipandang sebagai kegiatan seremonial atau hiburan keagamaan. Menurutnya, Waisak perlu diisi dengan ruang pembelajaran Dharma agar umat Buddha memperoleh kesempatan memperdalam pemahaman spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

“Waisak nasional itu bukan dirayakan untuk hura-hura atau jalan-jalan hiburan sambil melihat candi dan mengikuti acara seremonial saja, tetapi menjadi kesempatan yang baik untuk diskusi Dharma dan saling berbagi pengalaman kehidupan batin,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa Dhammavicayo dihadirkan sebagai kegiatan tambahan dalam rangkaian Waisak Nasional agar umat Buddha memiliki ruang untuk mempelajari Dharma secara lebih luas melalui ceramah, dialog, meditasi bersama, serta pembahasan mengenai kehidupan spiritual di tengah perubahan zaman.
Menurut Hartati Murdaya, perkembangan teknologi modern juga perlu disikapi dengan kewaspadaan batin. Dalam sambutannya, ia menyinggung mengenai era artificial intelligence yang saat ini berkembang sangat cepat di berbagai bidang kehidupan manusia.
“Sekarang sudah era artificial intelligence, artinya era menuju robot. Kalau tidak hati-hati nanti manusia pun menjadi robot,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti dengan perkembangan kualitas batin manusia. Dalam keadaan tertentu, manusia dapat terjebak pada pola pikir yang terlalu rasional, dipenuhi ego, serta hanya mengejar kemenangan dan kepuasan duniawi.
“Walaupun beragama, pikirannya tetap rasional, penuh ego, mencari menang, dan melekat pada kebutuhan hidup duniawi,” lanjutnya.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan pembahasan mengenai Dharma sebagai sumber moralitas dan kebijaksanaan. Dalam Buddhisme, moralitas tidak dibangun atas rasa takut terhadap hukuman, melainkan melalui kesadaran terhadap akibat dari setiap tindakan. Melalui pemahaman Dhamma, seseorang belajar menjaga ucapan, tindakan, dan cara berpikir agar tidak menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sementara itu, kebijaksanaan berkembang melalui kemampuan memahami kehidupan secara jernih. Dhammavicayo membantu seseorang melihat bahwa kemelekatan, kebencian, dan keserakahan hanya membawa penderitaan yang terus berulang.
Hartati Murdaya juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia pada akhirnya bersifat sementara. Menurutnya, besar kecilnya kekayaan maupun kedudukan tidak akan dapat dibawa ketika kehidupan berakhir.
“Kita menyadari bahwa hidup kita, besar kecil, kaya miskin, pada akhirnya semua harus meninggalkan jasadnya. Ketika hidup berakhir tidak ada yang bisa dibawa,” ujarnya.
Dalam sambutannya, ia turut menyinggung ajaran Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Utama Berunsur Delapan sebagai pedoman hidup umat Buddha dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan modern.
Ia berharap umat Buddha Indonesia dapat terus berupaya menjaga kejernihan hati dan pikiran agar mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan lebih bijaksana. Menurutnya, pembinaan spiritual tidak kalah penting dibandingkan pencapaian duniawi.
“Kita bukan hanya ingin maju dalam hal duniawi, tetapi juga ingin maju dalam kekayaan spiritual,” katanya.
Hartati Murdaya juga membagikan pengalaman pribadinya mengenai kehidupan, praktik berdana, dan rasa cukup dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan bahwa selama hidupnya, ia merasakan banyak hal baik yang datang ketika seseorang hidup tanpa pamrih dan bersedia berbagi kepada sesama.
“Saya merasa apa yang saya miliki bukan sepenuhnya punya saya. Saya mengambil secukupnya dan sisanya saya bagi-bagi,” ujarnya.
Menurutnya, praktik berdana dan membantu sesama perlu dilakukan tanpa perhitungan berlebihan. Ia mengatakan bahwa semakin seseorang bersedia berbagi, semakin besar pula kebahagiaan dan ketenangan batin yang diperoleh.
“Kalau beramal jangan berpikir lagi. Tanpa pamrih, nanti rezekinya akan lebih besar,” katanya.
Kegiatan Dhammavicayo 2026 menghadirkan empat pembicara utama dari tradisi Theravāda dan Vajrayāna, yakni V. Khenpo Ugyen Phuntsho, V.V. Yolmo Tulku Rinpoche, Luang Por Sawang Siriphatthado Wannasai, serta Y.M. Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera.
V. Khenpo Ugyen Phuntsho merupakan guru Buddhis Tibet dari tradisi Kagyu yang menyelesaikan pendidikan di Palpung Sherabling Monastic Seat dan memperoleh gelar Khenpo pada tahun 2018. Saat ini beliau mengajar tata bahasa Tibet dan ilmu tradisional Buddhis.
V.V. Yolmo Tulku Rinpoche atau Venerable Karma Tenpa Rabgye menjalani pendidikan monastik sejak usia tujuh tahun dan menerima berbagai transmisi serta empowerment dari guru-guru Buddhis Tibet ternama sebelum menyelesaikan studi filsafat Buddhis tingkat tinggi.
Sementara itu, Luang Por Sawang Siriphatthado Wannasai dikenal sebagai bhikkhu senior tradisi Dhammayut Thailand yang menjalani kehidupan meditasi hutan dan pembinaan komunitas monastik selama puluhan tahun.
Y.M. Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera yang telah melayani sebagai Dhammaduta di Indonesia sejak tahun 1999 turut membawakan pembahasan mengenai praktik Dhamma dalam kehidupan modern, meditasi kesadaran, pengendalian diri, dan praktik thudong.
Pelaksanaan Dhammavicayo di kawasan Mendut, Magelang, berlangsung sejak pagi hingga sore hari dengan rangkaian kegiatan berupa sambutan pembukaan, doa bersama, sesi Dharma, meditasi bersama, dialog dan tanya jawab, hingga blessing penutup.
Bagi Hartati Murdaya, Dhammavicayo bukan hanya kegiatan seremonial tahunan, melainkan ruang pembelajaran spiritual agar umat Buddha tetap memiliki kejernihan batin di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.







