Dhammavicayo akan diselenggarakan pada Kamis, 28 Mei 2026 pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB di Vihara Griya Vipassana Avalokitesvara, Jl. Bojong No.2 No.1, Mendut II, Mendut, Magelang. Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber lintas tradisi Buddhis yang akan membahas Dharma sebagai sumber moralitas dan kebijaksanaan dalam kehidupan modern. Melalui sesi ceramah, dialog, meditasi bersama, dan tanya jawab, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas pemahaman mengenai praktik Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tradisi Buddhis, istilah Dhammavicayo berasal dari bahasa Pāli yang berarti “penyelidikan terhadap Dhamma” atau “penguraian kebenaran melalui pengamatan dan perenungan.” Kata ini tersusun dari dua unsur, yaitu Dhamma dan Vicaya. Dhamma merujuk pada ajaran Buddha, hukum kebenaran, serta tata kehidupan yang membawa batin menuju kebajikan. Sementara Vicaya berarti pemeriksaan, pengamatan, atau penelaahan secara bijaksana.
Dhammavicayo bukan sekadar kegiatan intelektual untuk memahami teori keagamaan. Dalam praktiknya, Dhammavicayo berkaitan dengan kemampuan seseorang menelaah pengalaman hidup, membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang menimbulkan penderitaan, lalu menjalankan keputusan berdasarkan kebijaksanaan batin. Karena itu, Dhammavicayo termasuk salah satu dari Tujuh Faktor Pencerahan (Bojjhaṅga) yang membantu perkembangan kesadaran dan kejernihan pikiran.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi, persaingan sosial, dan perubahan cepat, Dhammavicayo memiliki posisi penting. Manusia sering menghadapi persoalan etika, tekanan emosional, serta keputusan yang memerlukan pertimbangan matang. Dalam keadaan seperti itu, Dhamma hadir bukan hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai sumber moralitas dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Moralitas dalam Buddhisme tidak dibangun atas rasa takut terhadap hukuman, melainkan dari kesadaran akan akibat dari setiap perbuatan. Ketika seseorang memahami hubungan sebab-akibat melalui perenungan Dhamma, ia akan lebih berhati-hati dalam ucapan, tindakan, dan cara berpikir. Dari sini lahir perilaku yang dilandasi kesabaran, welas asih, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap kehidupan.
Sementara itu, kebijaksanaan berkembang melalui kemampuan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Dhammavicayo membantu seseorang memahami bahwa kemarahan, keserakahan, dan kebencian hanya menghasilkan penderitaan berkepanjangan. Sebaliknya, ketenangan batin dan kejernihan pikiran membuka ruang bagi keputusan yang lebih sehat dan bermanfaat bagi banyak pihak.
Tema “Dharma Sebagai Sumber Moralitas dan Kebijaksanaan” memiliki hubungan erat dengan praktik kehidupan umat Buddha masa kini. Dhamma menjadi pedoman etis dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, hingga kehidupan sosial. Ajaran Buddha tidak berhenti pada ruang meditasi atau vihara, tetapi hadir dalam cara seseorang berbicara, bekerja, memimpin, dan memperlakukan sesama.
Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, moralitas berbasis Dhamma dapat membantu membangun hubungan yang lebih damai dan saling menghargai. Kebijaksanaan yang tumbuh dari praktik batin juga membantu seseorang menghadapi konflik tanpa kebencian serta menghadapi perubahan hidup tanpa kehilangan arah.
Pelaksanaan Dhammavicayo di kawasan Mendut, Magelang, memiliki suasana yang mendukung perenungan dan pembelajaran spiritual. Lingkungan yang dekat dengan kawasan cagar budaya Buddhis memberikan ruang yang tenang bagi peserta untuk mendalami pembahasan Dhamma sekaligus mempererat hubungan antarumat Buddhis dari berbagai daerah.
Acara ini juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi Theravāda dan Vajrayāna melalui kehadiran para guru dan pembicara dari latar belakang spiritual yang berbeda. Dengan demikian, peserta dapat memperoleh pandangan yang lebih luas mengenai praktik moralitas, meditasi, disiplin spiritual, dan pengembangan kebijaksanaan batin.
Melalui kegiatan Dhammavicayo, umat Buddha memperoleh kesempatan untuk mempelajari Dhamma secara lebih luas bersama para bhikkhu dan guru spiritual dari berbagai tradisi. Acara ini menghadirkan empat pembicara yang memiliki latar belakang pendidikan, praktik spiritual, dan pelayanan keagamaan yang luas.
V. Khenpo Ugyen Phuntsho
V. Khenpo Ugyen Phuntsho lahir pada hari ke-30 bulan lunar kedua dalam tahun Female Fire Rabbit (siklus Rabjung ke-17). Beliau berasal dari garis keturunan spiritual Pema Lingpa dan memiliki hubungan silsilah dengan Zhadrung Jigme Norbu Rinpoche.
Sejak usia muda, beliau mempelajari Dharma di bawah bimbingan ayahnya. Setelah menjalani pendidikan awal dalam tradisi Drukpa Kagyu, beliau mendalami liturgi, ritual, dan tarian sakral Buddhis Tibet selama beberapa tahun. Dalam perjalanan spiritualnya, beliau menerima berbagai transmisi dan empowerment dari guru-guru besar seperti H.H. Kyabje Penor Rinpoche dan H.H. Chamgon Kenting Tai Situpa.
Pada tahun 2004, beliau memasuki Palpung Sherabling Monastic Seat dan menyelesaikan pendidikan penuh di Shedra atau perguruan tinggi monastik. Setelah menjalani ujian besar lima kitab utama Buddhis, beliau memperoleh gelar Khenpo pada tahun 2018.
Saat ini, beliau mengajar tata bahasa Tibet dan ilmu tradisional Buddhis di Palpung Sherabling Monastic College dan Higher Institute of Tibetan Studies.

V.V. Yolmo Tulku Rinpoche
Venerable Karma Tenpa Rabgye, yang dikenal sebagai Yolmo Tulku Rinpoche, memasuki Palpung Sherabling Monastic Seat pada tahun 1999 pada usia tujuh tahun. Di sana beliau memulai pendidikan monastik dasar dalam tradisi Palpung.
Beliau kemudian melanjutkan studi ritual tantra di Tantric College Gyudra Thupten Dho-Ngag Chokhorling selama dua tahun. Dalam periode 2005–2012, beliau menerima berbagai ajaran, transmisi, dan empowerment dari guru-guru Buddhis ternama seperti H.H. Chamgon Kenting Tai Situpa, H.E. Sangye Nyenpa Rinpoche, dan H.E. Yongey Mingyur Rinpoche.
Pada tahun 2014 hingga 2018, beliau menjalani retret tradisional tiga tahun tiga bulan di Palpung Tingzin Gephel Ling Retreat Centre. Setelah itu, beliau melanjutkan studi filsafat Buddhis tingkat tinggi di Palpung Lungrig Jampal Ling Monastic Institute selama tujuh tahun.
Pada tahun 2026, beliau dipercaya menjadi pengajar program Palpung “Discovering the Buddha Within.”

Luang Por Sawang Siriphatthado Wannasai
Luang Por Sawang Siriphatthado Wannasai lahir pada 10 Februari 1953 di Sakon Nakhon, Thailand. Beliau ditahbiskan sebagai bhikkhu pada 14 November 1978 di Wat Tham Klang Phel, Provinsi Udon Thani, dalam tradisi Dhammayut.
Sejak awal kehidupan kebhikkhuannya, beliau menjalani praktik meditasi dan kehidupan sederhana di berbagai vihara hutan Thailand. Pada tahun 1989, beliau menetap di Wat Pa Phu Han, Ban Thung Huai Sai, Provinsi Udon Thani.
Dalam perjalanan pengabdiannya, beliau membina komunitas monastik dan mengembangkan kehidupan spiritual berbasis disiplin Vinaya serta praktik meditasi hutan. Sosok beliau dikenal luas melalui kehidupan sederhana dan kedisiplinan spiritual yang konsisten selama puluhan tahun.

Y.M. Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera
Y.M. Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera merupakan bhikkhu senior Sangha Theravāda Indonesia yang lahir di Sakon Nakhon, Thailand pada tahun 1971. Beliau menjalani kehidupan samanera sejak usia 13 tahun dan menerima penahbisan bhikkhu pada tahun 1992 oleh Phra Khru Pisan Pannakhom.
Pada tahun 1999, atas undangan Y.M. Bhikkhu Vin Vijjano Mahathera, beliau datang ke Indonesia sebagai Dhammaduta dan kemudian menetap untuk melayani umat Buddha di berbagai daerah.
Selain aktif dalam pelayanan Dhamma, beliau juga terlibat dalam Dewan WALUBI dan sering menyampaikan pesan spiritual pada berbagai kegiatan nasional Buddhis, termasuk Hari Raya Waisak. Bhante Kamsai juga dikenal luas melalui pembahasan mengenai praktik thudong, meditasi kesadaran, kesabaran, serta pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui ceramah, buku, dan media digital Buddhis, beliau terus membagikan pandangan Dhamma yang praktis dan mudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern.
Rangkaian acara Dhammavicayo akan dimulai dengan kata sambutan dan doa bersama, dilanjutkan sesi Dhammavicayo pertama, makan siang, sesi kedua beserta tanya jawab, meditasi bersama, dan ditutup dengan blessing serta doa penutup. Susunan kegiatan tersebut disusun agar peserta memperoleh ruang pembelajaran, refleksi, dan praktik meditasi secara seimbang sepanjang acara berlangsung.
Dhammavicayo membuka ruang bagi umat Buddha untuk memahami Dhamma secara lebih jernih melalui perenungan, dialog, dan praktik kehidupan sehari-hari. Ketika Dhamma dipahami bukan hanya sebagai teori, tetapi juga diterapkan dalam perilaku dan cara berpikir, maka moralitas dan kebijaksanaan dapat tumbuh secara seimbang.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, manusia membutuhkan kejernihan batin agar tidak mudah terombang-ambing oleh kebencian, keserakahan, maupun kebingungan. Melalui penyelidikan Dhamma yang benar, seseorang dapat membangun kehidupan yang lebih damai, bijaksana, dan bermanfaat bagi sesama.








