Suasana Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, tampak berbeda sejak Sabtu pagi, 23 Mei 2026. Ribuan warga dari berbagai daerah berdatangan untuk mengikuti Bakti Sosial Kesehatan Gratis yang diselenggarakan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dalam rangkaian peringatan Hari Tri Suci Waisak 2570 B.E./2026. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat, kegiatan ini menjadi pusat perhatian karena menghadirkan pelayanan medis berskala besar sekaligus pemeriksaan khusus penyakit tuberkulosis (TBC).
Kegiatan kemanusiaan tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Waisak Bersama Umat Buddha Indonesia. Selain menghadirkan layanan kesehatan gratis, pelaksanaan bakti sosial juga membawa semangat cinta kasih, kepedulian sosial, dan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang.




Acara pembukaan berlangsung di Taman Lumbini dan diawali dengan penampilan Tarian Tilakhana bertema Anicca, Dukkha, dan Anatta. Sejumlah pejabat nasional dan daerah turut hadir, di antaranya perwakilan Kapusdokkes Polri Brigjen Pol dr. Nariyana, M.Kes., QHIA., Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama Drs. Supriyadi, M.Pd., Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Dr. Latif Usman, S.I.K., M.Hum., perwakilan Pangdam IV/Diponegoro, Bupati Magelang Grengseng Pamuji, serta Ketua Umum DPP WALUBI sekaligus Ketua Panitia Waisak Bersama Umat Buddha Indonesia, DR. (H.C.) Dra. S. Hartati Murdaya.
Dalam sambutannya, Hartati Murdaya menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial kesehatan telah berlangsung sejak 1996 dan terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari rangkaian Waisak nasional. Ia mengatakan kegiatan yang semula dilakukan secara sederhana kini berkembang menjadi pelayanan kesehatan besar yang mampu menjangkau ribuan masyarakat di sekitar Borobudur.

Menurut DR. ( H.C ). Dra. S. Hartati Murdaya, rangkaian Waisak nasional selalu diawali dengan penghormatan kepada para pahlawan melalui ziarah dan tabur bunga di makam pahlawan di berbagai daerah tempat WALUBI berada. Ia menyebut jasa para pahlawan tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus bangsa.
“Kehadiran saudara-saudara sekalian memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat menyatukan banyak pihak dalam satu tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat yang membutuhkan amal bakti demi Karma baik masing-masing,” ujar Hartati Murdaya di hadapan tenaga medis, relawan, dan tamu undangan yang hadir.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, rumah sakit, institusi pendidikan, serta relawan lintas agama yang selama ini mendukung kegiatan pelayanan kesehatan WALUBI. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak memperlihatkan besarnya perhatian terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan.




Hartati Murdaya mengatakan bakti sosial kesehatan tahun ini tidak hanya berfokus pada pengobatan umum, tetapi juga pemeriksaan spesialis dan skrining penyakit TBC serta paru. Pemeriksaan tersebut menjadi perhatian utama karena angka penderita TBC di Indonesia, khususnya Jawa Tengah, masih tergolong tinggi.
Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko menjelaskan bahwa Jawa Tengah saat ini menjadi daerah dengan jumlah penderita TBC tertinggi ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Ia menyebut estimasi penderita TBC di Jawa Tengah mencapai lebih dari 150 ribu orang pada 2026, namun angka deteksi masih jauh dari jumlah tersebut.
Menurut Agung, salah satu kendala terbesar dalam penanganan TBC adalah rendahnya pemeriksaan dini di masyarakat. Banyak penderita mengalami batuk berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, atau kondisi tubuh menurun, tetapi tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Kondisi itu menyebabkan penularan penyakit masih terus terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.
Selain pemeriksaan TBC dan paru, layanan kesehatan yang tersedia meliputi poli umum, poli mata, gigi, bedah, terapi kesehatan, pemeriksaan penyakit dalam, hingga layanan rontgen bergerak. Panitia menargetkan sekitar 10 ribu warga memperoleh pelayanan selama kegiatan berlangsung pada 23–24 Mei 2026.





Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut melibatkan lebih dari seribu tenaga medis dan relawan. Rumah Sakit Suci Paramita bertindak sebagai promotor dan koordinator bakti sosial dengan dukungan berbagai institusi, antara lain RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono Magelang, Rumah Sakit Moestopo, PDGI, Perdami Jawa Tengah, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, serta sejumlah rumah sakit pemerintah daerah di Jawa Tengah.
Jumlah personel yang diterjunkan mencapai sekitar 1.646 orang, terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, paramedis, tenaga farmasi, mahasiswa kesehatan, hingga relawan dari berbagai latar belakang agama. Kehadiran relawan lintas agama disebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan sosial di kawasan Borobudur tahun ini.
Dalam pidato tertulis Gubernur Jawa Tengah yang dibacakan Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dr. Elhamangto Zuhdan, MKM., Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyampaikan apresiasi kepada WALUBI dan seluruh mitra atas penyelenggaraan bakti sosial kesehatan tersebut. Disebutkan pula bahwa semangat cinta kasih dan welas asih dalam Waisak sejalan dengan upaya membangun masyarakat Jawa Tengah yang sehat dan sejahtera.
Hartati Murdaya dalam sambutannya juga menjelaskan bahwa setelah kegiatan bakti sosial selesai, WALUBI masih akan melaksanakan pemeriksaan lanjutan pascaoperasi bagi pasien katarak dan bedah minor. Tim medis bersama relawan disebut akan tetap mendampingi pasien yang masih memerlukan penanganan kesehatan setelah kegiatan utama berakhir.
Selain pelayanan kesehatan, rangkaian Waisak nasional juga akan dilanjutkan dengan pengambilan Api Dharma di Mrapen, Grobogan, serta pengambilan Air Berkah di Umbul Jumprit, Temanggung. Puncak perayaan Waisak dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026 di pelataran Candi Borobudur dengan rangkaian puja bakti, meditasi, pradaksina, hingga pelepasan lentera pada malam hari.
Menjelang akhir sambutannya, Hartati Murdaya menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan, memperluas kepedulian terhadap sesama, serta membangun kehidupan yang damai melalui sikap saling menghormati dan saling membantu. Ia menutup sambutannya dengan doa, “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,” yang berarti semoga semua makhluk hidup berbahagia.







