BANDUNG, 3 September 2026 — Ketua Pelaksana Harian DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), YM. Bhikkhu Srivisarn Mitgnam Mahathera, meresmikan Cetiya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin Bandung. Peresmian Cetiya ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang pembinaan keagamaan bagi warga binaan Buddha di lingkungan Lapas Sukamiskin.
Turut hadir dalam peresmian ini yakni, Ketua Pelaksana Harian DPP WALUBI YM. Bhikkhu Srivisarn Mitgnam Mahathera, Kepala Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung Dr. Tr. Nanank Syamsudin, AMd.IP., S.Sos., M.H., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., Ketua Pembina Sangha Dhammaduta Indonesia YM. Bhikkhu Sannano Darmawan Mahathera, Pembimas Buddha Jawa Barat Bapak Bodhi Giri Ratana, S.Pd., M.M., Bapak Nyoman Suriadharma, dan Pengurus DPP PBNU Bapak Royandi Haichal, S.H., M.H., CRA., CLI. serta Tokoh Lintas Agama.
Dalam rangkaian acara, YM. Bhikkhu Srivisarn Mitgnam Mahathera turut mengambil bagian dalam prosesi pemotongan pita bersama para tokoh dan pejabat yang hadir. Prosesi tersebut menandai secara resmi dibukanya Cetiya Agama Buddha di lingkungan Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung. Peresmian dilanjutkan dengan pembukaan batu prasasti Cetiya. Dalam rangkaian acara tersebut, Cetiya ini diharapkan dapat menjadi tempat pembinaan Dhamma, pendidikan moral, kebajikan, kedamaian, serta kerukunan bagi umat dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di Ruang Buddha dengan sambutan dari sejumlah tokoh yang hadir, sebelum memasuki doa bersama serta prosesi pembukaan dan pemberkahan Buddha Rupang. Para tamu dari berbagai agama dan keyakinan diberikan kesempatan untuk berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing.
Sebagai Ketua Pelaksana Harian DPP WALUBI YM. Bhikkhu Srivisarn Mitgnam Mahathera menyampaikan, tersedianya ruang pembinaan keagamaan bagi umat Buddha, termasuk di lingkungan pemasyarakatan. “Cetiya ini menjadi bagian dari fasilitas keagamaan yang dapat mendukung umat Buddha dalam mempelajari Dhamma dan menjalankan pembinaan spiritual.” Ujar Bhante Srivisarn
Dalam prosesi pemberkahan Rupang Buddha, para Bhikkhu memimpin pembacaan paritta, dilanjutkan dengan pembukaan Buddha Rupang, penerangan lampu, dan pemberkahan. Rangkaian tersebut diharapkan mendukung keberadaan Cetiya sebagai ruang untuk mempelajari Dhamma, mengembangkan kebajikan, membina moralitas, menumbuhkan kebijaksanaan, serta memperkuat kerukunan dan kedamaian.
Sebagai penutup, peresmian Cetiya di Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pembinaan keagamaan bagi warga binaan Buddha secara berkelanjutan. Keberadaan Cetiya ini juga menjadi ruang untuk menjalankan kegiatan keagamaan, mempelajari Dhamma, serta mengembangkan sikap moral dan kebajikan selama menjalani masa pembinaan. Melalui pembinaan yang dilakukan secara teratur, diharapkan warga binaan dapat memperoleh bekal spiritual dan nilai-nilai kehidupan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.











