Rangkaian Dharma Teaching and Empowerment yang digelar oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) bersama Majelis Palpung Indonesia menghadirkan perjalanan spiritual yang menyentuh dua kota, dimulai dari Magelang dan berakhir di Jakarta. Kedua pertemuan ini bukan semata rangkaian acara, namun menjadi ruang pembelajaran mendalam tentang makna Dharma serta pentingnya mengenali potensi batin dalam menghadapi kehidupan modern yang penuh ketidakpastian.
Di Magelang, Graha Palpung Padmasambhava kembali menjadi pusat perhatian pada Jumat (9/1/2026) saat Yang Mulia Guru Vajradhara Chamgon Kenting Tai Situpa memimpin pembabaran Dharma serta bimbingan meditasi. Suasana yang tenang dan budaya spiritual yang kuat di tempat ini memberikan atmosfer reflektif bagi para peserta. Bagi banyak orang, Magelang menjadi titik awal perjalanan batin, di mana ajaran tentang “Wisdom for a Meaningful Life” mulai diurai secara perlahan, membawa mereka untuk menengok kembali ke dalam diri sendiri.
Dalam tradisi Buddha Vajrayana, Yang Mulia Tai Situpa dipandang sebagai inkarnasi Bodhisattva Maitreya dan Guru Padmasambhava. Namun bagi peserta, kehadiran beliau lebih dari sekadar simbol religius—beliau tampil sebagai cendekiawan dan pembimbing yang mampu menjembatani kebijaksanaan kuno dengan tantangan modern. Melalui ratusan karya tulis dan puluhan tahun pengalaman mengajar, beliau merumuskan ajaran yang dapat diterapkan oleh siapa pun, terlepas dari keyakinan atau budaya mereka.
Ketua Majelis Palpung Indonesia, Prajna Murdaya, menyampaikan bahwa tema yang diangkat bertujuan membantu peserta menemukan makna hidup melalui praktik batin yang konsisten. Ia menekankan bahwa tempat dan komunitas yang hadir memberikan energi kondusif bagi siapa saja yang ingin mengembangkan kualitas diri dan menambah kebajikan.
Ajaran inti yang disampaikan dalam pertemuan ini berkisar pada pengenalan potensi batin. Yang Mulia Tai Situpa menegaskan bahwa manusia secara alami membawa benih kesempurnaan dalam diri mereka. Dalam hidup yang penuh perubahan, kesadaran terhadap potensi ini menjadi sumber kekuatan. Beliau mengingatkan bahwa berbagai keyakinan memiliki tujuan akhir masing-masing, namun semuanya bermuara pada pencarian kebaikan dan kebijaksanaan yang bersumber dari dalam diri manusia, bukan dari luar.
Perjalanan spiritual para peserta tidak berhenti di Magelang. Sebanyak ratusan umat kemudian melanjutkan langkah mereka menuju Jakarta, di mana penutup rangkaian Dharma Teaching and Empowerment berlangsung dengan khidmat pada Minggu, 18 Januari 2026 di JIExpo Kemayoran. Jika Magelang memberi ruang kontemplasi di tengah keheningan, maka Jakarta menjadi tempat penyatuan energi kolektif dari berbagai komunitas dan negara.
Di tengah suasana megah JIExpo, ajaran yang sama kembali menggema: manusia memiliki kemampuan alami untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan penuh welas asih. Banyak peserta, seperti Wendy Ho dari London, merasakan bahwa kegiatan ini bukan untuk mencari perubahan instan, melainkan memupuk kesadaran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengalaman yang ia bawa, Wendy berharap dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik tanpa memandang agama atau latar belakang mereka, sebuah pesan universal yang ia pelajari dari Yang Mulia.
Keseluruhan rangkaian acara, dari Magelang hingga Jakarta, menjadi perjalanan dua lanskap batin: yang satu berakar pada keheningan spiritual, dan yang lain berdenyut dalam dinamika perkotaan. Namun keduanya menyatu dalam satu pesan yang sama—bahwa Dharma adalah panduan untuk menggali makna hidup, mengenali potensi diri, dan menapaki jalan menuju kebijaksanaan dengan penuh kesadaran. Dengan harapan yang sama, semua peserta pulang membawa seberkas cahaya untuk menerangi langkah mereka masing-masing dalam kehidupan sehari-hari.












