“tidak bergaul dengan orang yang dungu, bergaul dengan mereka yang bijaksana, dan menghormat mereka yang patut dihormati, itulah berkah utama” (Maṅgala Sutta)
Syair pertama dari Manggala Sutta berisi arahan yang tampak sederhana: tidak bergaul dengan orang yang dungu, bergaul dengan mereka yang bijaksana, dan menghormat mereka yang patut dihormati. Kalimat-kalimat itu begitu sering terdengar dalam pembacaan paritta sehingga terkadang terasa akrab, namun bila dipikirkan kembali, isinya dapat menjadi pedoman penting dalam menghadapi perubahan zaman, terutama ketika hubungan manusia menjadi semakin rumit oleh interaksi digital dan kecepatan arus informasi. Syair ini mengajak kita melihat bahwa kebahagiaan tidak lahir begitu saja dari kondisi luar, tetapi dari cara kita menyeleksi pengaruh yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Bagian pertama, yang berbicara tentang menjauhi pergaulan dengan orang dungu, menyentuh persoalan yang jarang dibahas secara langsung. Dalam ajaran Buddha, istilah ini merujuk pada mereka yang terbiasa dikuasai pandangan keliru, mudah terbawa kemarahan, atau gemar melakukan tindakan yang membuat batin keruh. Mereka bukan musuh, tetapi bila berada terlalu dekat, seseorang dapat ikut terseret dalam arus perbuatan yang merugikan. Dalam Dhammapada, terdapat pesan bahwa lebih baik berjalan sendiri daripada bergabung dengan mereka yang membawa seseorang pada kerusakan batin. Ujaran itu tidak bertujuan membuat seseorang menjauh dari dunia, melainkan memberi peringatan bahwa pergaulan memiliki pengaruh yang kuat pada kualitas pikiran.
Pada masa sekarang, makna pergaulan tidak hanya terjadi melalui pertemuan fisik. Dengan ponsel di tangan, seseorang dapat terseret ke dalam percakapan yang membuat batin lelah meski tidak bertemu siapa pun secara langsung. Ucapan penuh kebencian, gosip, perdebatan tanpa kejelasan, maupun tayangan yang merangsang keserakahan, dapat memengaruhi suasana hati tanpa disadari. Syair ini mengajak kita berhenti sejenak dan memperhatikan: siapa yang kita ikuti di media sosial? Apa yang kita tonton setiap hari? Bagaimana percakapan daring memengaruhi pikiran kita sebelum tidur? Pertanyaan seperti ini dapat membantu seseorang mengamati bagaimana pergaulan digital membentuk batin tidak kalah kuat dibanding pergaulan langsung.
Ketika syair berlanjut ke anjuran untuk bergaul dengan mereka yang bijaksana, kita menemukan penjelasan yang lebih terang dalam Upaddha Sutta. Di sana Buddha menyatakan bahwa keberadaan teman yang baik bukan hanya sebagian dari kehidupan luhur, melainkan keseluruhannya. Mereka yang memiliki kejernihan pikiran, kemampuan melihat situasi secara tenang, serta keteguhan untuk tidak mengikuti dorongan buruk, dapat memberikan suasana yang menyejukkan bagi siapa pun yang berada di dekat mereka. Mereka mungkin tidak memberi nasihat panjang, tetapi cara mereka hidup menjadi panduan itu sendiri.
Berada di sekitar orang bijaksana, seseorang dapat memperhatikan hal-hal kecil: bagaimana mereka memilih kata-kata, bagaimana mereka menahan diri ketika tergoda marah, bagaimana mereka mengatur keperluan sehari-hari tanpa menciptakan beban bagi orang lain. Dari sana, seseorang belajar tanpa diminta. Perubahan terjadi bukan karena dorongan keras, tetapi melalui kebiasaan mengamati dan menyesuaikan diri. Hubungan semacam ini dapat muncul dalam berbagai bentuk—teman seperjalanan dalam latihan meditasi, guru rohani, anggota keluarga yang berperilaku baik, atau bahkan seseorang yang kita jumpai sesekali tetapi meninggalkan jejak positif pada cara kita melihat hidup.

Setelah itu syair mengarahkan kita pada sikap menghormati mereka yang patut dihormati. Dalam Sigalovada Sutta, terdapat uraian tentang bagaimana seseorang sebaiknya memperlakukan orang tua, guru, sahabat dekat, pasangan, pegawai, maupun pemimpin moral. Setiap hubungan memiliki tempat dan perannya, dan ketika seseorang memberi perlakuan yang layak kepada mereka yang memiliki kedudukan tertentu dalam kehidupan, batin menjadi lebih lembut. Sikap hormat seperti ini bukan sujud tanpa arti, melainkan pengakuan bahwa terdapat orang yang telah berjalan lebih dulu, memiliki pengalaman lebih banyak, atau memiliki kebajikan lebih kuat. Tanpa sikap semacam ini, seseorang mudah dikuasai keangkuhan yang membuatnya sulit menerima pandangan baru.
Sikap hormat juga melatih batin agar tidak kaku. Ketika seseorang melihat perilaku baik dalam diri orang lain, lalu menghargainya, ia sebenarnya sedang membuka ruang dalam dirinya untuk mengikuti arah serupa. Dengan menghormati seseorang yang mempraktikkan kebajikan, seseorang memperkuat keinginan untuk menempuh jalan yang sama. Sikap ini menjadi pupuk emosional yang membantu kebiasaan positif tumbuh secara perlahan.
Pemahaman mengenai syair ini dapat diperluas dengan melihat ajaran lain. Dalam Karaniya Metta Sutta, terdapat uraian mengenai kualitas seseorang yang mengembangkan cinta kasih sejati: tidak kasar, tidak congkak, dan berhati lembut. Bila dibandingkan dengan syair Manggala Sutta, terlihat bahwa pribadi seperti itu adalah sosok yang tepat untuk dijadikan teman bergaul. Mereka mampu meredakan ketegangan hanya melalui keberadaan mereka. Bahkan tanpa kata-kata, kehadiran mereka membuat seseorang lebih mudah menjaga sikap.
Ketika syair pertama dari Maṅgala Sutta ini diterapkan dalam kehidupan modern, banyak bentuk penerapan yang dapat ditemukan. Dalam dunia kerja, lingkungan yang tenang dan jujur dapat membantu seseorang menjaga kejelasan pikiran. Namun ketika berada dalam lingkungan penuh persaingan tidak sehat, seseorang dapat merasa mudah lelah dan kehilangan kendali. Sikap selektif dalam memilih lingkungan pergaulan dapat membuat seseorang tetap teguh bahkan ketika harus bekerja bersama banyak orang. Dalam keluarga, sikap menghormati orang yang lebih tua dapat meredakan banyak ketegangan. Sementara dalam komunitas keagamaan, pergaulan antara sesama praktisi dapat memperkuat keteguhan hati untuk terus berjalan di jalur yang benar.
Perubahan yang dihasilkan dari penerapan syair ini tidak selalu tampak segera. Namun perlahan, seseorang mulai merasakan perbedaan: ia lebih berhati-hati dalam memilih percakapan, mulai mengurangi keterlibatan dengan sumber konflik, dan lebih tertarik pada mereka yang membawa keteduhan. Ia juga lebih mudah memberikan penghormatan kepada guru, orang tua, atau siapa pun yang membantu menata kehidupan batin. Perubahan itu berlangsung seperti aliran air yang terus mengikis batu—perlahan tetapi pasti. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan keras; yang ada hanya kebiasaan yang tumbuh dari pengamatan dan latihan sehari-hari.
Pada akhirnya, syair pertama ini menawarkan cara sederhana untuk menjalani kehidupan yang lebih tertata. Dengan tidak terlibat dalam pergaulan yang merusak, mendekati mereka yang hidup dengan kebijaksanaan, dan menjaga sikap hormat kepada pihak yang lebih berpengalaman, seseorang sedang merawat ruang batin yang tenang. Tanpa perlu ritual rumit, tanpa harus mengubah seluruh hidup dalam sekejap, ketiga langkah ini dapat membuat seseorang berjalan dengan lebih ringan. Syair ini tidak terbatas pada masa tertentu atau kelompok tertentu; ia dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin hidup dengan batin yang lebih bersih, lebih jernih, dan lebih kuat menghadapi berbagai keadaan.







