Keluarga besar dan segenap umat Buddha Indonesia menggelar acara peringatan 100 hari kepergian mendiang Murdaya Widyawimarta Po OBE di kediaman almarhum, Rancamaya Bogor pada tanggal 16 Juli 2025. Sebagai salah satu dewan pembina Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), almarhum dikenang melalui rangkaian doa dari anggota Sangha di ikuti oleh Umat Buddha Indonesia dari Theravada, Mahayana, dan Tantrayana.
Selain sebagai momen penghormatan, acara ini juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan warisan (legacy) mendiang Murdaya Widyawimarta Po OBE melalui Legacy Testimony, yang dihadiri oleh keluarga almarhum, termasuk Ibu Dra. S. Hartati Murdaya beserta anak-anak: Metta Murdaya, Prajna Murdaya, Upekkha Murdaya, dan Karuna Murdaya.
Acara yang penuh khidmat ini juga dihadiri oleh beberpa tokoh penting yakni, Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Bapak Sultan Baktiar Najamudin, Gubernur DKI Jakarta Periode 2014-2017 Bapak Basuki Tjahaja Purnama/Ahok, Walikota Singkawang Ibu Tjhai Chui Mie, Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Bapak Drs. Supriyadi, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Bimas Buddha Kemenag RI Bapak Nyoman Suriadarma, Anggota DPRD Kota Tangerang Bapak Christian Lois, Pembimas Buddha DKI Jakarta Bapak Suliarna, tokoh-tokoh Tionghoa Indonesia. Serta beberapa Organisasi seperti PSMTI, INTI, PTK Indonesia, dan ACYA.
Dalam kesempatan ini, Ibu Dra. S. Hartati Murdaya menyampaikan, “Kami sebagai keluarga sangat terharu dengan kehadiran semua pihak yang turut mendoakan almarhum. Beliau adalah sosok yang selalu berdedikasi untuk kemajuan umat Buddha dan persatuan bangsa. Warisan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan akan kami teruskan sebagai bentuk penghormatan.” Ujar Hartati
Almarhum Bapak Murdaya adalah tokoh yang sangat berjasa dalam membangun toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Kontribusinya dalam membangun dialog antaragama patut menjadi teladan bagi kita semua. “Acara ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum untuk merefleksikan nilai-nilai persatuan yang selama ini diperjuangkan almarhum. Kita semua berkewajiban untuk melanjutkan estafet perjuangannya dalam membangun Indonesia yang lebih toleran dan harmonis,” Ungkap Ketua Dewan Perwakilan Daerah Bapak Sultan Baktiar Najamudin.
Sebuah sesi khusus “Sharing Legacy” menghadirkan berbagai testimoni dari rekan-rekan seperjuangan almarhum. Mereka membagikan kenangan berharga tentang peran penting Murdaya Widyawimarta dalam membangun dialog antaragama dan pengembangan pendidikan Buddhis di Indonesia. Puncak acara ini juga ditandai dengan peluncuran “Buku Kenangan 100 Hari” yang berisi kumpulan tulisan dari keluarga, sahabat, dan kolega almarhum. Buku ini menjadi bukti nyata betapa besar pengaruh dan inspirasi yang diberikan Murdaya Widyawimarta selama hidupnya.
Perwakilan organisasi Tionghoa Indonesia turut memberikan penghormatan dengan menyampaikan, “Sebagai sesama anggota masyarakat Tionghoa, kami sangat bangga dengan kontribusi almarhum dalam mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Beliau adalah sosok panutan yang telah membuktikan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa Indonesia.”







