WALUBI Kota Medan Bawa Pesan Dharma Semangat kerukunan antarumat beragama di Kota Medan kembali diperkuat melalui kehadiran perwakilan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Kota Medan dalam acara Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan (KAM). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Orchid, Catholic Center Medan, pada Sabtu (07/02/2026) ini mengusung tema sentral: “Berjalan Bersama, Mendengarkan, Menguatkan, dan Mewartakan.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua WALUBI Medan, Arman Chandra, yang diwakilkan oleh Sekretaris WALUBI Medan, Ridwan, hadir untuk memberikan dukungan moral sekaligus berbagi pandangan dari perspektif ajaran agama Buddha terkait semangat kebersamaan yang diusung oleh Keuskupan Agung Medan. Pendapat Perspektif Agama Buddha dalam Sinode Dalam sesi diskusi, Ridwan menyampaikan bahwa tema Sinode VII KAM memiliki resonansi yang sangat kuat dengan nilai-nilai Dharma. Berikut adalah poin-poin pemikiran yang disampaikan: 1. Berjalan Bersama (Kalyanamitta): Dalam ajaran Buddha, konsep sahabat sejati atau Kalyanamitta adalah kunci dalam menempuh jalan spiritual. Berjalan bersama bukan sekadar bergerak di waktu yang sama, melainkan saling menjaga komitmen untuk mencapai kesejahteraan bersama (Loka Hita) tanpa memandang perbedaan latar belakang. 2. Seni Mendengarkan dengan Kesadaran (Sati): Mendengarkan adalah bentuk tertinggi dari rasa hormat. Dengan praktik Deep Listening (mendengarkan secara mendalam), kita belajar untuk memahami penderitaan dan harapan sesama tanpa menghakimi. Ini adalah fondasi dari cinta kasih (Metta) dan kasih sayang (Karuna). 3. Menguatkan melalui Gotong Royong: Dunia saat ini penuh dengan tantangan. Ajaran Buddha menekankan pentingnya kedermawanan (Dana) dan pelayanan untuk meringankan beban sesama. Menguatkan berarti hadir sebagai pelindung dan pendukung bagi mereka yang sedang lemah. 4. Mewartakan Kedamaian: Mewartakan dalam konteks universal adalah menunjukkan perilaku yang baik (Sila). Umat Buddha percaya bahwa cara terbaik untuk “mewartakan” kebenaran adalah melalui keteladanan hidup yang damai, jujur, dan penuh kasih, sehingga kehadiran kita membawa kesejukan bagi lingkungan sekitar. Kehadiran WALUBI Medan dalam agenda besar umat Katolik ini menegaskan bahwa perbedaan dogma bukanlah penghalang untuk berkolaborasi dalam nilai-nilai kemanusiaan. Sinergi antara kelompok agama di Medan diharapkan terus bertumbuh demi terciptanya masyarakat yang harmonis dan inklusif. ”Kehadiran kami di sini adalah wujud nyata dari moderasi beragama. Kita semua sedang menempuh perjalanan yang sama menuju kedamaian dunia, hanya melalui jalan-jalan yang berbeda namun tetap beriringan.” — Ridwan, Sekretariat WALUBI Medan.di Sinode Diosesan VII









