Pada Sabtu sore, 7 Februari 2026, suasana layar TVRI BALI menjadi lebih hangat dengan hadirnya episode terbaru Mimbar Agama Buddha. Program yang tayang pukul 16.30 WITA ini mengajak pemirsa merenungkan kembali apa yang sering luput dalam keseharian: bagaimana kita bersikap, bagaimana kita memahami sesama, dan bagaimana kita menjaga kejernihan batin di tengah derasnya arus informasi.
Dipandu oleh I Ketut Satya Kumara, CCD., CHC., dan menghadirkan narasumber Siskaria Chandra Dewi, S.E., M.Pd., perbincangan berlangsung santai namun padat makna. Tema besar kali ini—“Menumbuhkan Etika, Empati, dan Kesadaran dalam Kehidupan”—dipilih karena dekat dengan pergulatan banyak orang yang kini hidup dalam dunia yang serba cepat. Acara Mimbar ini merupakan agenda rutin DPD WALUBI Provinsi Bali, ungkap Pande Made Utari, Ketua DPD WALUBI Provinsi Bali.
Etika: Langkah Awal Menjaga Kehidupan Berjalan Harmonis
Dalam segmen pertama, narasumber membahas bagaimana etika kerap tergerus oleh tekanan sosial dan dorongan untuk serba instan. Di tengah maraknya penipuan digital, tindakan curang, dan penggunaan media sosial yang tidak bijak, etika dipandang sebagai pegangan yang membantu manusia tetap berpijak pada sikap yang wajar dan penuh tanggung jawab.
Ia juga menjelaskan bahwa Lima Sila dapat diterapkan secara luas dalam kehidupan modern. Misalnya, larangan berdusta sangat relevan ketika seseorang dihadapkan pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Begitu juga dengan larangan mencuri yang kini mencakup tindakan yang sering dianggap “sepele”, seperti menggunakan karya digital tanpa izin.
Melalui contoh-contoh sederhana, pemirsa diingatkan bahwa etika bukan hanya aturan, melainkan cara menjaga kehidupan tetap berjalan sehat dan tidak saling melukai.
Empati: Kepekaan yang Mulai Meredup
Masuk ke segmen kedua, pembahasan beralih pada empati—sebuah sikap yang menjadi penyangga hubungan antarmanusia. Narasumber mengungkapkan bahwa banyak orang kini merasa jauh dari kepekaan. Media sosial membuka jarak baru: dekat secara teknologi, tetapi sering jauh dalam rasa.
Ia menuturkan bahwa empati tidak membutuhkan tindakan besar. Mendengarkan tanpa buru-buru menyela, tidak memviralkan kesalahan seseorang, dan memberi ruang bagi orang lain untuk bernapas, adalah bentuk empati yang dapat dilakukan siapa saja.
Menurutnya, empati tidak membuat seseorang tampak lemah. Justru sebaliknya, mereka yang mampu memahami sesama tanpa membalas dengan amarah menunjukkan kestabilan batin yang tidak mudah digoyahkan.
Kesadaran: Menemukan Tenang di Tengah Kesibukan
Segmen ketiga membahas kesadaran—kualitas batin yang sangat dibutuhkan di tengah kehidupan yang penuh distraksi. Narasumber menyampaikan bahwa banyak keputusan buruk muncul bukan karena niat jahat, tetapi karena seseorang tidak menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Latihan kesadaran dapat dilakukan kapan saja, bahkan saat melakukan aktivitas sederhana: menyadari napas ketika merasa tegang, memperhatikan langkah kaki saat berjalan, atau berhenti sejenak sebelum menulis komentar yang bisa menyakiti orang lain. Latihan kecil ini membantu seseorang melihat situasi secara jernih.
Kesadaran yang terjaga membuat seseorang lebih tenang, lebih stabil, dan tidak mudah terbawa arus emosi.
Merangkai Tiga Sikap Batin untuk Kehidupan yang Lebih Damai
Pada bagian akhir, narasumber menekankan bahwa etika, empati, dan kesadaran bukanlah tiga hal terpisah. Ketiganya saling menguatkan satu sama lain. Etika menjaga agar seseorang bertindak bijaksana. Empati membantu memahami apa yang dirasakan orang lain. Kesadaran menjaga agar batin tetap tenang saat menghadapi tekanan.
Jika ketiga hal ini berjalan bersama, kehidupan keluarga menjadi lebih nyaman, hubungan sosial terasa lebih hangat, dan masyarakat dapat hidup lebih rukun.
Acara kemudian ditutup dengan harapan agar pemirsa membawa pulang pesan tersebut dalam keseharian—mulai dari rumah, tempat kerja, hingga ruang digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup modern.












