|

TANJUNGPINANG- VIHARA Avalokitesvara di Jl.Km.14 arah Tanjung Uban, Kelurahan Air Baja, Kecamatan Tanjungpinang Timur - Kepulauan Riau(Kepri) memiliki fasilitas megah, tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Vihara Tanjung Pinang tersebut merupakan vihara terbesar di Asia Tenggara dengan luas lahan 10 hektar, dibangun dan peletakan batu pertama pada 14 juli 2003 dimotori oleh Hengky Suryawan Ketua DPD Walubi Kepulauan Riau (Kepri), raja kapal Kepri kelahiran Sungai Unggar, Tanjungbatu, Karimun 4 September 1949.
Akhirnya diresmikan pada Rabu 3 Juni 2009 oleh Menteri Agama RI, H.M.Maftuh Basyuni, dihadiri Gubernur Kepri Drs. H.Ismeth Abdullah, Wakil Gubernur Kepri M.Sani, Dirjen Bimas Buddha Drs.Budi Setiawan Msc, Ketua Umum DPP Walubi Dra.S.Hartati Murdaya, Walikota Tanjung Pinang Dra.Hj.Suryatati A.Manan para anggota DPR, DPD dan DPRD, para tokoh lintas agama , Komandan territorial dari 3 angkatan dan POLRI, Ketua Vihara Avalokitesvara Graha YM. Bhiksu Seck Chong Seng Maha Sthavira, para Bhiksu dari China, Taiwan, Sinagpore, Malaysia, Tibet dan Indonesia serta 2000 lebih umat Buddha dari Mancanegara.
Maftuh Basyuni Menag RI, menyambut baik atas prakarsa umat Buddha Tanjung Pinang telah membangun sebuah tempat ibadah termegah dan terluas di Asia tenggara.
“dinamika kehidupan dirasakan sudah mulai banyak menyesuaikan diri dengan majunya perkembangn ilmu dan teknologi”
Menag RI mengharapkan tempat ibadah tidak hanya berperan pada kehidupan beribadah saja, tetapi dapat menjalankan fungsi keagamaannya sebagai pusat pengembangan kwalitas umat dan pemberdayaan ekonomi umat. Agar terjalin sinergi umat antara aktivitas ritual umat & aktivitas social ekonomi.”sebab itu seyogyanya tempat ibadah yang dibangun dengan infrastruktur lengkap dan gaya arsitektur indah menjadikan orang beribadah merasa tenang dan nyaman”.
Maftuh Basyuni meminta umat Buddha menjaga keseimbangan dengan budaya luhur yang dipandang bermanfaat menjadi aktor dalam merekontruksi lembaran baru, sesuai dengan dinamika sosial yang terus berkembang.
Sementara Ibu Hartati Murdaya Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia (DPP WALUBI) mengatakan bahwa Vihara adalah merupakan tempat ibadah untuk menimba ilmu Buddha Dharma, darisitu dapat melaksanakan kehidupan beragama dengan benar, layaknya sebagai manusia dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mulia, agar hidupnya dapat berbahagia sepanjang masa.
Bapak Hengky Suryawan sebagai Ketua DPD WALUBI Kepulauan Riau, telah melakukan keteladanan sebagai sosok umat Buddha. Beliau seorang pengusaha swasta telah memberikan sumbangsih dalam melaksanakan hidup melawan hawa nafsu, keserakahan melalui perbuatan dermawan dan sangat berjasa untuk kemajuan umat Buddha. Kata Ibu Hartati.
Ditambahkan ibu Hartati, Semoga umat Buddha Kepri dan pemerintahannya dapat berkembang dalam menunjang pembangunan wisata budaya, sosial dan agama dimasa mendatang.
Senada disampaikan Hengky Suryawan Ketua Panitia/Yayasan Maitri Paramita / Walubi Kepri, bahwa tujuan pembangunan ini sebagai sarana, prasarana bagi Bhiksu Sangha, Guru, penyuluh dan umat Buddha untuk mempelajari, menghayati sekaligus mengamalkan ajaran guru agung Budha Gautama, disamping meningkatkan keyakinan umat Buddha terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tri Ratna serta meningkatkan budi pekerti luhur. Hengky, menjelaskan ruang kebaktian (Dharmasala) terdapat 22 ruang kuti & menampung 800 umat berkebaktian, dengan altar utama Kuan Yin Phu Sha sedang duduk setinggi 16.8 meter terbuat dari tembaga seberat 40 ton dan berlapis emas 22 karat di didampingi 32 Bodhisatwa dan arahat, di pekarangan terdapat 24 rupang Kuan Yin. Fasilitas lain dipersiapkan krematorium, ruang serbaguna, gedung sekolah, asrama, rumah jompo dan rumah abu.
Acara dimulai setelah badai dan hujan terhenti dengan tarian Selamat datang oleh muda mudi melayu Kepri, menyanyikan Indonesia raya dan Doa dari Sangha Mahayana Indonesia YM. Bhiksu Dhyanavira Maha Sthavira dan sambutan sambutan dari Ketua Panitia Henky Suryaman, Ketua Umum DPP Walubi, Gubernur Kepri, dan Menteri Agama RI. Dilanjutkan pemukulan genta, penandatanganan prasasti, pengguntingan pita, peninjauan Vihara dan ditutup dengan pemberian Museum Rekor Indonesia (MURI) atas pemrakarsa dan penyelenggaraan rupang Kuan Yin Phu Sha posisi duduk setinggi 16.8 meter, bobot 40 ton dan berbahan tembaga dilapisi emas 22 karat. Disaksikan Menteri Agama, Gubernur Kepri, Walikota Tanjungpinang, Diorjen Bimas Buddha, Ketua Umum DPP Walubi.
Sebelumnya Maha Bhiksu Dutavira Sthavira Ketua Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia. Memimpin di altar utama membersihkan ruang mandala tempat persembahyangan bersama She Xue Liang dan She Liang Ik (2/6) diikuti puluhan Bhiksu Mahayana, Theravada dan Tantrayana, sedangkan ratusan umat Buddha Mahayana di pimpin langsung oleh Ketua Panitia Hengky Suryawan, dilanjutkan dengan upacara ritual memuliakan Kuan Yin Phu Shadan memanjatkan doa “Ta Pei Chan”. “ agar umat yang mengikuti ritual upacara tersebut, mudah memperoleh berkah dari para Buddha dan Bodhisatva” ujar Maha Bhiksu Dutavira.
Seremonial acara dipimpin dan didaulat oleh pembawa acara USDK Sidhartha Ketua Penyantun Dana untuk Kepri, Riau dan Jambi
Hadir : Hai Tao Fashe (Taiwan), Bhiksu Dhyanavira Maha Sthavira (Indonesia), She Miao Ching(China), Jingren Fashe (Autralia), Arief Harsono (Waketum DPP Walubi), Citra Surya (Sekjen DPP Walubi), Drs.Efendi Hansen, dll.
|