Pembukaan
DPP Walubi
DPD Walubi
Perwakilan
Program Umum
Lambang
Ikrar
Hymne




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

Gempa Bumi di Cianjur Jawa Barat

Gempa bumi berkekuatan 7,3 pada skala Richter yang mengguncang Pulau Jawa, Rabu (2/9) pukul 14.55, dan Cianjur Selatan merupakan lokasi terparah akibat gempa bumi itu.

Lokasi yang dituju adalah bukit yang longsor menggulung dan mengubur 13 rumah, 15 keluarga, dan puluhan koli yang tengah memecah batu di bawahnya. Lokasinya di perbatasan Desa Cikangkareng dan Desa Pamayonan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jabar.

Untuk menuju lokasi, Presiden dan rombongan berhenti beberapa kali. Kondisi jalan berbatu yang berkelak-kelok dan naik-turun menjadi penyebabnya. Sama seperti kondisi jalan, kondisi rakyat di sekitarnya pun kurang mendapat perhatian. Tak banyak bangunan baru di sepanjang jalan menuju lokasi bencana.

”Ini rumah yang membangun ayah saya. Kami tinggal di sini bersama-sama,” ujar Umar (37), warga Kampung Dago, Desa Suka Mekar, Cibinong, yang dilalui rombongan Presiden. Di Kampung Dago yang berjarak sekitar 17 kilometer dari Desa Cikangkareng,

Meski berjarak sekitar 17 kilometer, perjalanan menuju Desa Cikangkareng butuh waktu lebih dari satu jam. Jalan batu tak beraspal dengan lebar sekitar 3 meter menembus hutan membuat perjalanan lambat dan kerap terhenti. Namun, perjalanan lambat itu membawa berkah. Realitas rakyat yang hidup jauh dari gambaran seperti dicita-citakan pendiri negara muncul nyata.

Tukang Penggali batu

Tanah gersang berbukit-bukit dilaluinya. Tak adanya penghidupan lain, selain berkebun dan menjadi buruh tani, menjadi awal bencana di Desa Cikangkareng. Bukit yang runtuh karena gempa bumi adalah tempat penghidupan kedua bagi para buruh tani saat kemarau tiba.

”Sejak tiga tahun terakhir bukit itu berpenghuni. Orang menggali batu cadas, lalu ditatah menjadi bata dan koral untuk dijual,” ujar Ade Setiawan (35), warga Desa Pamayonan.

Sepanjang musim kemarau, bukit yang dihuni 15 keluarga itu tambah ramai. Banyak kuli dan pembeli batu yang datang. ”Saya beberapa kali membeli dan mengangkut bata dari sana. Saat awal, satu bata harganya Rp 350. Sekarang Rp 600,” ujar Ade lagi.

Ade menduga, banyaknya batu yang diambil membuat bukit labil. Saat gempa, bukit rontok dan mengubur bangunan yang ada di atasnya. Selain di bukit itu, tak banyak dijumpai bangunan rusak, apalagi ambruk.(toto)

Keterangan Foto

foto 1 : semburan batu batu beton besar sempat menahan rumah gubug
foto 2 : longsoran batu dari pecahan gunung menimbun persawahan
foto 3 : pohon pohon besar tumbang terhantam pecahan batu gunung
foto 4 : kerikil kerikil tajam terhempas dihamparan persawahan
foto 5 : longsoran gunung sempat bertaburan mensekat jalan alternatif dan dikawatirkan masih rawan bencana

 
 
 

Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.