Perayaan Waisak 2561 BE / 2017 Perwakilan Umat Buddha Indonesia

Hari besar Agama Buddha salah satunya adalah hari Trisuci Waisak yang merupakan hari raya terbesar dan paling bermakna bagi umat Buddha.

‘Waisak’ berasal dari bahasa Pali ‘Vesakha’ atau di dalam bahasa Sansekerta disebut ‘Vaisakha’. ‘Vesakha’ diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.

Disebut demikian karena Waisak memperingati Tiga Peristiwa Penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama.

Tiga Peristiwa Penting itu adalah :
1. Kelahiran Pangeran Sidharta
Pangeran Sidharta adalah Putra dari seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir ke dunia sebagai seorang Bodhisatva (Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertinggi). Beliau Lahir di Taman Lumbini pada tahun 623 sebelum Masehi.
2. Pencapaian Penerangan Sempurna

Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari Usia Tua, Sakit dan Mati. Kemudian pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak, Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar Buddha Gautama.

3. Pencapaian Parinibbana
Ketika usia 80 tahun, Buddha Gautama Wafat atau Parinibbana di Kusinara. Semua Makhluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para Anggota Sangha, mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.

Perwakilan Umat Buddha (WALUBI) pada perayaan Waisak 2561 Buddhist Era tahun 2017 ini melaksanakan kegiatan upacara Waisak di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Tiga kegiatan ritual inti pada perayaan Waisak antara lain pengambilan air dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung, Pengambilan Api Alam di Merapen Grobogan Jawa Tengah, pindapatta atau memberikan persembahan /kebutuhan pokok kepada sangha serta kegiatan meditasi yang dilaksanakan pada saat detik-detik di Candi Borobudur.

Selain itu Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) melakukan kegiatan sosial pengobatan gratis kepada masyarakat Magelang dan sekitarnya yang dilaksanakan pada tanggal 6-7 Mei 2017 selama dua hari. WALUBI turut mengundang para pejabat daerah serta tokoh-tokoh masyarakat.

Tanggal 8 Mei 2017 dilaksanakan Pengambilan air berkah di Umbul Jumprit di Temanggung.
Pengambilan air berkah di Umbul Jumprit Temanggung sebagai bagian ritual inti dari setiap perayaan Waisak. Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dan anggota sangha akan mengambil air berkah dari sumber air Umbul Jumprit yang berlokasi di Kecamatan Ngadirejo, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dari sumber air ini, air berkah tersebut kemudian dibawa untuk disakralkan di Candi Mendut dengan ritual penerimaan Air Berkah dan dilakukan kegiatan puja. Makna dari air yaitu sifat rendah hati, sifat dari air dapat membersihkan noda-noda, dapat memberikan tenaga kepada makhluk-makhluk, dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan, selalu mencari tempat yang rendah (tidak sombong). Persembahan air mempunyai makna agar pikiran, ucapan dan perbuatan selalu bersih. Air memiliki kekuatan untuk membersihkan noda, makna inilah yang dapat kita tauladani, di hari Waisak ini kita hendaknya dapat membersihkan segala kotoran bathin (klesa) yang berasal dari keserakahan (lobha), kebencian (dvesa), dan kebodohan/kegelapan bathin (moha) dan ia memancarkan kasih sayang (maitri), Welas asih (karuna), memiliki rasa simpati (mudita) dan keseimbangan bathin (upeksha).

Tanggal 9 Mei 2017 dilaksanakan pengambilan Api Abadi di Grobogan, Mrapen, Jawa Tengah.

Ritual inti kedua pada perayaan Waisak 2017 adalah pengambilan api abadi di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ritual diawali dengan puja bakti dengan berbagai sarana puja di altar. Api abadi melambangkan kobaran semangat manusia untuk mendapatkan pencerahan dan menghapus kesuraman dalam kehidupan.

Tanggal 10 Mei 2017 pukul 15.00 WIB, dilaksanakan Prosesi dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur

Umat dari Majelis-majelis Agama Buddha akan melaksanakan kegiatan ritual di Candi Mendut. Dipimpin oleh sangha dari masing-masing majelis Umat membacakan paritta, sutra dan mantra. Usai kegitan ritual, umat dan anggota sangha akan melakukan prosesi menuju Candi Borobudur. Berbagai sarana puja akan di bawa oleh rombongan prosesi menuju Candi Borobudur. Sesampainya di Candi Borobudur, semua sarana puja akan di persembahkan di Altar utama yang berada di zona 1 Candi Borobudur.

Sebelum menyongsong detik-detik Waisak pada tanggal 11 Mei 2017, pukul 04.42.09 WIB, dilakukan serangkaian kegiatan diantaranya pada pukul 20.00 WIB umat berkumpul di tenda masing-masing Majelis untuk melaksanakan kegiatan ritual. Usai kegiatan ritual pada pukul 21.00 – gdari Direktur Urpendik Agama Buddha Kementerian Agama RI Bapak Drs. Supriadi, M.Pd serta Pengarahan dan Sambutan dari Bhikkhu Khanit Sananñño Mahathera.

Sebelum memasuki acara puncak yaitu detik-detik Waisak, umat Buddha akan bersama-sama menyanyikan lagu Buddhis (Vihara Githa) yaitu ( Hymne Walubi, Anicca, Dukkha, Anatta dan Pengendalian Diri. Selanjutnya kegiatan Special Performance Live in Concert by Imee Ooi dan Dewa Budjana.

Para pejabat, KetuaPanitia Waisak 2561 dan Pimpinan Majelis Agama Buddha akan melepaskan lampioan pada pukul 00.30 – 01.00 WIB dan selanjutnya kegiatan ritual pembacaan paritta oleh masing-masing majelis Agama Buddha. Bhiksu Tadisa Paramita akan membacakan Renungan Waisak pada pukul 03.00 – 03.30 dan dilanjutkan tuntunan sebelum meditasi menjelang detik-detik waisak pada pukul 04.42.09 oleh Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera. Usai meditasi detik-detik waisak umat Buddha akan di percikkan air berkah oleh bhikkhu sangha, dengan harapan semoga berkah Waisak ini akan memberikan kedamaian, kejayaan serta kebijaksanaan bagi umat Buddha. Kegiatan Pradaksina (yaitu mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3 kali) umat dengan membawa Bunga Teratai dan dengan iringan lagu Buddhang Saranang Gacchami dilaksanakan pada pukul 05.10 – 06.00 WIB, (Selesai pradaksina umat meletakkan teratai di Candi dengan melakukan Adhitana (bertekad) dan bernamaskara 3x).

Pukul 06.00 – 06.00, Para umat kembali ke Altar utama untuk menyanyikan Lagu Berkah Waisaka Puja bersama sama diiringi paduan suara Harmoni Dharma, dan Perayaan Waisak 2561 BE/2017 diakhiri pada pukul 06.10 umat Buddha melakukan Namaskara.

Selamat Hari Waisak 2561 Buddhist Era, Semoga berkah Waisak selalu memberikan kejayaan bagi Umat Buddha dan kedamaian Bagi Dunia, Semoga Semua Makhluk Berbahagia. Sadhu…