WALUBI

Sambutan Waisak 2017 Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) Maha Pandita Utama (MPU) Suhadi Sendjaja



Sambutan Waisak 2017 Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) Maha Pandita Utama (MPU) Suhadi Sendjaja 

Nam-Myoho-Renge-Kyo

Waisak merupakan hari peringatan kelahiran-pencapaian kesadaran Buddha dan Moksha dari Buddha Sakyamuni, namun demikian yang harus kita sadari sebetulnya Buddha tidak pernah meninggal, Buddha selalu hidup di dalam Dharma yang telah dibabarkannya. Fisiknya jelas sudah tidak ada, tetapi Dharmanya dapat kita jadikan acuan / pegangan/ bimbingan di dalam menjalankan kehidupan untuk menjadi manusia yang paling bahagia dan bermanfaat di dunia ini, yaitu mencapai kesadaran Buddha. Kesadaran Buddha merupakan kondisi perasaan jiwa yang Kuat (Tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh yang buruk, malah bisa memberikan pengaruh yang baik kepada lingkungan sekitar), Bebas (Tidak terikat oleh segala sesuatu yang bersifat sementara seperti pujian, ejekan, reputasi, kehancuran, keuntungan, kerugian, keberhasilan, kegagalan, harta, tahta, dan wanita/pria), Suci (mampu membedakan mana hal yang baik dan yang tidak baik, selalu memiliki pemikiran, perasaan, dan tindakan yang positif), Tenang (Selalu bisa menghadapi berbagai macam situasi dan persoalan dengan bijaksana, tidak terburu-buru tetapi juga tidak lamban).

Perasaan jiwa senantiasa berubah dalam sekejap, oleh karena itu sangat penting untuk dapat mempertahankan sekejap perasaan jiwa ini agar selalu berada di dalam kualitas perasaan jiwa Buddha. Di dalam keadaan perasaan jiwa yang sekejap-sekejap inilah terdapat kebahagiaan atau pun penderitaan. Kebahagiaan hanyalah sebuah keadaan perasaan, hanya sebuah rasa, dan tentu perasaan itu adalah sebuah kondisi yang dapat dikendalikan oleh setiap umat manusia. Manusia dapat mempertahankan kondisi perasaan jiwa yang bahagia hanya dengan menghayati Buddha Dharma yang tepat waktu dan tepat guna di dalam kehidupannya sehari-hari, karena dengan menghayati Dharma Buddha tersebut di dalam kehidupan, maka manusia akan senantiasa menjadi makhluk yang sadar, dan dengan kesadaran ini mereka mampu untuk menjadi manusia yang berguna dan bahagia.

Akhir-akhir ini banyak terjadi kekacauan di berbagai belahan dunia, banyak orang-orang yang sudah diselimuti oleh ketiga racun: Keserakahan, Kemarahan, dan Kebodohan, sehingga mereka hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Melihat keadaan ini, sebagai seorang Buddhis,kita menyadari bahwa kita tidak dapat merubah orang lain, tetapi kita bisa memperbaiki/ meningkatkan kualitas diri kita sendiri, sehingga lingkungan / orang lain pun ikut berubah menjadi baik. Tujuan dari kelahiran Buddha di dunia ini adalah untuk memberitahu jalan untuk mengembangkan potensi kebuddhaan di dalam diri seseorang, satu per satu melalui praktik Dharma di dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan berkembangnya potensi kebuddhaan dari seseorang dapat memengaruhi dan memberikan sumbangsih yang besar terhadap orang-orang maupun lingkungan yang berada di sekitarnya.

Di dalam momen Waisak ini, marilah kita melakukan refleksi diri, bahwa sebetulnya yang terpenting di dalam praktik Dharma bukan hanya satu tahun sekali ketika memeringati momen Waisak seperti ini, tetapi yang lebih penting adalah praktik Dharma di dalam kehidupan sehari-hari, menjaga sekejap-sekejap perasaan jiwa melalui penghayatan terhadap Buddha Dharma. Selamat Waisak 2017!


Ketua Umum
Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia

 


Suhadi Sendjaja
Ketua Umum