Sambutan Menteri Agama RI Pada Waisak 2561 BE (Buddhis Era) Tahun 2017

Sambutan Menteri Agama RI
Pada Waisak 2561 BE (Buddhis Era) Tahun 2017

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah dan karunia-Nya, kita dapat melanjutkan ibadah, tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Semoga dengan berkah karma baik kita, Waisak kali ini menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi umat Buddha dan masyarakat pada umumnya.

Sebagaimana kita ketahui pemerintah Indonesia telah menetapkan Hari Waisak sebagai hari libur nasional. di mana pada tahun ini jatuh pada tanggal 11 Mei 2017, untuk itu saya mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak kepada seluruh umat Buddha Indonesia. Semoga perayaan Waisak ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan.

Selaku Menteri Agama, saya mengucapkan terima kasih kepada para pimpinan dan tokoh-tokoh agama Buddha, baik di tingkat pusat maupun di daerah, terlebih kepada masyarakat Buddha Indonesia yang senantiasa mengedepankan kehidupan beragama dengan rukun dan damai. Semangat kedamaian dalam kemajemukan, optimisme dalam menyambut masa depan, kesungguhan membina diri, dan meningkatkan karya bakti dalam kehidupan sosial keagamaan telah menjadi jiwa masyarakat Buddha. Semoga kondisi itu dapat dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang.

Seiring dengan tema Waisak “Tingkatkan Kesadaran Menjadi Kebijaksanaan”, saya menganggap penting, di mana agama Buddha menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa mengembangkan kebijaksanaan dengan menjaga pikiran, tindakan, dan perkataan agar di antara sesama dapat saling menabur kasih sayang, dan punya semangat untuk hidup harmonis, saling menghormati satu sama lain. Ajaran Buddha juga mengajak untuk menciptakan kedamaian serta bersinergi dalam membangun bangsa, disertai sikap yang optimis. Umat manusia mesti menjaga alam semesta, memelihara lingkungan dengan baik, demi kelangsungan generasi mendatang agar memiliki masa depan yang baik. Sungguh suatu ajaran yang penuh keluhuran, yang melihat ke depan, dan memberikan penekanan pada kehidupan yang inklusif disertai semangat kebijaksanaan. Itu adalah pesan spiritual, pesan moral yang sangat luhur, untuk dijalankan bersama dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di negara tercinta.

Selanjutnya pada kesempatan yang sangat baik ini, saya mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk terus mengedepankan empat konsensus kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) dalam membangun pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara secara masif dan dinamis. Dengan dipahaminya pilar-pilar kehidupan berhangsa dan bemegara tersebut, akan menjadi pedoman bagi Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depannya yang lebih baik.

Nilai-nilai demokrasi, persaman dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sangat penting untuk ditumbuhkembangkan dalam organisasi keagamaan. Melalui peran pemuka agama, pemahaman masyarakat mengenai konstitusi dan pengembangan budaya sadar berkonstitusi bagi seluruh komponen bangsa akan semakin meningkat. Kesadaran dalam berkonstitusi yang harus ditanamkan tidak hanya cukup dengan memahami pasal-pasal UUD 1945, tetapi yang lebih utama adalah memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Melalui momentum Waisak kali ini, dengan berkaca kepada teladan Buddha, saya mengingatkan kembali akan pentingnya “akhlak” dan “moral” dalam proses perjalanan kebangsaan dan kenegaraan kita. Akhlak dan moral menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai fondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan dikembangkannya akhlak dan moral, sesuai nilai lultur bangsa maka bangsa ini akan maju, rakyatnya sejahtera, ramah terhadap sesama, toleran, damai, tidak ada kekerasan dan sopan santun dalam kehidupan sehari hari.

Setiap tindakan yang dilakukan harus senantiasa dilandasi oleh niat yang luhur, niat yang baik, sehingga tidak mengganggu orang lain. Seluruh anak bangsa memiliki kebebasan untuk bertindak, tetapi kebebasan yang dimiliki itu harus bersandar pada akhlak dan moral. Bebas tanpa akhlak, hanya akan menghasilkan kehancuran. Sedangkan bebas yang bersandarkan akhlak, merupakan langkah menggapai kedamaian. Seiring dengan hal itu, saya ingin menyitir satu pesan Buddha bahwa: “bagi orang yang memiliki keyakinan dan perilaku yang baik, maka ia akan menerima nama baik, kemanapun ia pergi akan senantiasa mendapatkan nama harum dan berkah yang luhur dari Tuhan Yang Maha Esa”. Selamat Waisak dan salam bahagia kepada umat Buddha Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan, dan lindungan-Nya kepada kita sekalian. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sekian dan terima kasih.

MENTERI AGAMA RI

 

LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN